kejadian 26 oktober 2010
0 Comments »Awal pertama waktu mengungsi, sungguh aku tak percaya. Waktu itu kalo gak salah pukul 18:15 tnaggal 26 oktober 2010. Aku sedang asik nonton tv di rumah bersama adik. Waktu itu ibuk sedang pergi ke mushola brsama ibu-ibu lainya, nggak tau kenapa tiba-tiba ada tmen datang trus ngasih tau lok di suruh turun ke balaidesa umbulharjo katanya gunung merapi sedang erupsi dan awan sudah sampai ke desa kinahrejo padahal sidorejo tempat aku tinggal nggak trlalu jauh dari desa kinahrejo jaraknya sekitar 1km.
Wakti itu aku sungguh tidak percaya, karena dari rumah nggak kedengeran suara gemuruh atau apapun suwara sirine juga nggak kedengeran dari dalam rumahku. Aku terus keluar dan aku melihat banyak waega sekitar yang sudah turun menuju balai desa umbulharjo. Aku tetep ngrasa nggak percaya dan aku berpikiran mungkin nggak apa-apa Cuma letusan kecil. Aku masih diluar rumah melihat warga yang terus berbondong-bondong turun ke balai desa.
Aku merasa cemas saat hujan abu mulai turun, aku baru percaya kalau awan panas sudah sampai desa kinahrejo. Aku mulai berjalan cepat masuk kedalam rumah dan menyuruh adik-adik untuk mengemasi barngnya. Aku juga mulai bergegas mengemasi barngku. Aku mulai kawatir saat ibuku belum juga pulang dari mushola. Aku mulai nyalain motor mau menjemput ibuku, ternyata ibu udah sampai jalan deket rumah terus aku mulai ngasih tau ibu tentng kejadian itu. Dan ibu juga cepat bergegas masuk rumah dan mulai mengemasi barangnya. Aku sampai lupa kalau nenek masih ada di kamar. “Aduh gimananih”.. aku mulai mengajak nenek keluar tapi mau bagaimana, nenek kalau suruh naik motor udah nggak berani lagi kaerna umur nenek sudah satu abat lebih. Kami bingung mau bagai mana, untungnya mobil evakuasi lewat depan rumah, jadi ibu dan nenek bisa ikut mobil tersebut. “Cepat-cepat”.. aku mencoba untuk tenang jangan terlalu panik. Karena di desa sudah sepi semua warga sudah turun ke barak pengungsin. Waktu pukul 18:30 Aku mulai nyalain motor mengikuti di belakang mobil evakuasi.
Hujan abu semakin deras, Aku semakin kawatir karena di sertai bau beleranng yang menyengat. Aku berpikiran pasti semua ini Cuma mimpi. Di jalan aku hanya helihat abu disana-sini menutupi jalanan. Saat hampir sampai balai desa jalanan macet, karena banyak mobil dan motor yang berhenti memenuhi jalanan. Suasana saat itu sungguh menakutkan semuanya hanya merasa panik dan gelisah. Tim SAR mulai menenangkan semua orang agar jangan panik. Aku mulai memarkirkan motorku dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujan abu sangat deras di sertai bau belerang yang sangat menyengat.
Aku hanya bisa diam melihat semuanya, semuanya hanya seperti mimpi buruk. Kapan semua ini akan berakhir? Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Seselang beberapa menit ada tim SAR yang membagikan masker. Akupun bergegas meinnta masker unbtuk aku dan adiku. Aku yakin semuanya akan baik karena semuanya sudah ada yang ngatur. Saat semuanya mulai tenang aku mulai mencari ibuku di sekitar kerumunan masyarakat. Tapi perasaan ini nggak bisa tenang karena ada kabar bahwa sudah ada korban di daerah kinahrejo. Terdengar suara ambulan yang melaju cepat dan berhenti di depan balai desa aku sempat melihat korban di dalam mobil. Ternyata sungguh mengerikan semuanya hangus. Saat itulah aku merasa takut banget ternyata salahsatu temanku sudah tidk ada lagi dan tetangga dekat, dan dikbarkan lagi juru kunci gunung merapi juga di temukan dalam keadaan sujut sudah meninggal. Aku terus merasa cemas sambil mencari anggota keluargaku dan saudara-saudara terdekat.
Akhirnya aku bisa menemukan ibuku dan nenek, aku merasa sedikit tenang bisa berkumpul kembali. Dan juga bisa berkumpul bersama warga satu kampung. Didalam tenda darurat semuanya berkumpul dan ber istirahat. Namun malam itu aku tak bisa tidur begadang sampai pukul 03:30. Pada waktu itu matahari samasekali belum nampak aku mencoba nekat melihat ke desaku. Sesampainya di desa aku melihat banyak pepohonan yang tumbang di sekitar pinggir jalan. Ternyata di gargu ronda ada beberapa orang pemuda di desaku yang juga begadang menjaga desa dari orang-orang yanng tidak bertanggung jawab.
Aku ikut bergabung ke gardu ronda ada sekitar 6 orang di dalam. Sampai fajar menyingsing aku masih begadang. Dan pagi itu sekitar pukul 05:16 tim sar mulai naik melihat keadaan di atas. Aku dan kawan-kawan pemuda menunggu sampai matahari terlihat terang. Sekitar pukul 05:30 kami mulai naik ke desa kinahrejo. Di perjalanan aku melihat pepohonan yang tumbang di jalan tapi sudah di singkirkan oleh tim sar. Jadi kami tinggal mengikuti saja sampai ke atas. Saat sampai di desa ngkrangkah ke utara sudah terlihat pepohonan yang tetrbakar. “Bagai mana jadinya desa kinahrejo? kalau di sini sudah kebakaran”.. tanyaku dalam hati..
Sesampainya di kinahrejo aku tak percaya melihat semua ini. Rumah-rumah sudah pada hancur pepohonan sudah terbakar semua. Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan di desa itu. Tapi saat di cermati ternyata masih ada suara sapa yang masih hidup tapi susah untuk di jangkau karena terhalang rumah-rumah yang roboh. Aku melihat semuanya sudah seperti gurun semuanya sudah rata. Aku hanya bisa memandang semua ini hanya seperti mimpi burukku, kalau memeng mimpi aku ingin segera bangun. Tapi semuanya nyata.
Aku berjalan melihat rumah-rumah yang hancur berjalan berlahan melihat kondisi sekitar desa kinahrejo. Aku tak sanggup melihat saat tim sar menemukan jenasah saudara kita yang sudah dalam keadaan hangus. “Mengapa semuanya ini ter jadi?” mungkin ini sudah kehendak yang Maha Kuasa, ya sudahlah. Semuanya orang waspada karena puncak gunung merapi sudah sangat terlihat jelas tanpa terhalang pepohonan. Setelah beberapa jam di atas aku dan kawan-kawan turun dan melihat keadaan di desa kami yang sudah tertutup abu dari gunung merapi. Dan semuanya masih berlanjut...
0 Responses to "kejadian 26 oktober 2010"
Posting Komentar