Gemuruh di malam itu
0 Comments »Waktu itu aku sedang mengungsi di balai dasa umbulhajo cangkringan dan sedang berkumpul, saat itu aku dan warga satu desa mengungsi di rumah warga sekitar balai desa. Pas waktu itu semuanya tenang karena sebagian pengungsi sudah tidur. Waktu itu aku sedang asik dengerin musik bersama temen-temen di luar ruangan Sambil mengamati keadaan sekitar. Aku masuk kedalam duduk sambil dengerin musik. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang cukup keras semuanyapun terdiam sesaat. Ada yang bilang kalau suara itu suara gunung merapi. Otomatis semuanya menjadi panik dan membangunkan pengungsi yang masih tertidur karena waktu itu menunjukan pukul 01:32 jadi pengungsi masih tertidur lelap. Aku berjalan melihat keluar dan melihat banyak warga yang panik. Aku balik masuk kedalam dan mencoba untuk tenang, waktu itu ibu dan adiku sudah terbangun tadi nenek masih tertidur karena nenek sudah tidak tau apa-apa. Pak RW datang dan memberi tau untuk tetap tenang tapi sebagian pengungsi panik dan membuat semuanya menjadi panik. Semuanya bergegas keluar mencari tempat yang dianggap aman. Tapi aku tetap di dalam ruangan bersama ibu adik dan warga lainya. Kebanyakan yang didalam adalah lansia. Aku mulai kawatir saat semuanya sudah keluar, waktu itu yang didalam ruangan hanya ada 13 orang. Aku berjalan melihat keluar sudah sepi, pengungsian yang di balaidesa juga sudah sepi, aku balik kedalam dan memberi tau kalau di luar sudah tidak ada orang, kami hanya bisa terdiam sesaat untuk berdo’a. Saat itu bau belerang sudah mulai tercium dan abu mulai turun saat itu dalam kedaan gerimis jadi abu campur air menjadi huja lumpur. Aku berjalan keluar mencoba untuk mencari bantuan, saat aku di pinggir jalan aku melihat mobi lalu aku soroti senter karena waktu itu listrik padam jadi gelap banget. saat aku soroti lampu senter ada orang yang merespon disamping mobil. Mobil itu pun berjalan menghampiriku ternyata itu mobil kru wartawan yang sedang meliput, salah satu kru keluar dan bertanya “apa masih ada orang didalam?”... “iya masih ada beberapa orang” jawabku. Lalu aku berjalan masuk dan menyuruh semua pengungsi yang tersisa untuk keluar. Semuanyapun keluar dan masuk mobil, dan sebagian naik motor termasuk aku dan adiku. Nenek dan ibuku ikut bersama mobil itu yang hanya muat beberapa orang saja. Aku mulai menyalakan motorku dan berjalan mencari tempat yang di anggap aman. Di perjalanan aku hanya melihat abu dimana-mana, pandanganku kabur karena helem yang aku gunakan tertutup lumpur ditambah listrik yang sedang padam membuat padanganku semakin tidak jelas. Saat aku sadar aku ternyata mengikuti mobil yang salah bukan mobil yang membawa sebagian pengungsi tadi. Aku hanya berjalan terus mencari tempat aman. Saat sampai di pakem ada orang yang memanggilku, saat aku amati ternyata temanku yang sedang berteduh di depan toko bersama sebagian pengungsi lainnya. Aku pun bergabung bersama temanku dan sebagian pengungsi lainnya. Saat di pakem tepatnya di pertigaan pokoh aku berteduh. Listrik disitu tidak padam jadi terlihat terang. Satu jam lebih aku berteduh disitu bersama pengungsi lainnya dan ingin pindah ke lapangan kelidon. Di perjalanan kami di hentikan orang kalau dilihat dari seragamnya kayaknya seperti tim SAR kamipun berhenti dan memarkikan motor di tempat yang teduh, lalu kami di bagikan masker untuk jaga-jaga. Sampai pagi hari tiba aku hanya duduk di depan toko, karena saat itu semuanya berhenti di depan toko. Sampai matahari terlihat kami mulai menyalakan motor dan balik ke balai desa tidak jadi kelapangan. Aku melihat semuanya tertutup abu, sesampainya di balai desa ternyata sudah ada pengungsi lain yang sampai duluan. Tapi disitu masih sepi hanya sebagian yang ada di balaidesa umbulharjo. Kami hanya duduk-duduk dan melihat keadaan sekitar yang sudah tertutup abu. Beberapa menit kemudian tim SAR dan anggota lainnya mulai datang. Waktu itu menunjukan pukul 05:12 jadi masih sepi. Saat mulai ramai aku dan temen satu desa naik keatas menuju desa kami. Desa kami hanya tertutup abu untungnya tidak apa-apa. Aku hanya melihat-lihat keadaan sekitar lalu kembali ke pengungsian. Di pengungsian ternyata ibu belum juga kelihatan, ternyata ibu berada di pengungsian wukirsari cangkringan bersama nenek dan pengungsai lainya. Aku lega ibu dan nenek tidak apa-apa. Ibu dan nenekpun di antar ke balai desa bersama pengungsi lainnya. Dan aku bisa bertemu ibuku lagi. Dan semuanya pun masih berlanjut.
0 Responses to "Gemuruh di malam itu"
Posting Komentar