perjalanan erupsi merapi 2010

0 Comments »
Nggak terasa udah setahun lamanya setelah erupsi merapi 2010. Pastinya udah banyak kisah yang telah terjadi, dimulai dari tanggal 26 oktober 2010 kejadian yang tak mungkin terlupakan.  Kami sekeluarga dan seluruh warga sidorejo desaku di buat bingung. Harus lari kesana kemari berpindah-pindah ke barak pengungsian. Berawal dari barak pengungsian balai desa umbulharjo dan berakhir di rumah sementara yang luas dan megah dimana lagi kalau bukan di setadion maguoharjo. Sampai berminggu-minggu kami semua warga lereng merapi tinggal disana. Sampai status merapi diturunkan dari awas menjadi aman.

Ya langsung aja. Dimulai dari saat di pengungsian balai desa umbulharjo, Waktu itu sekitar pukul 17.45 kalau nggak salah suasana di rumah aman tenang dan damai, dan tiba-tiba aku di kagetkan oleh teman yang datang kerumah dan memberitau kalau awan panas sudah meluncur kebawah sampai ke desa kinahrejo, yang kita tau sekaeang sudah rata. Aku Cuma merasa percaya tak percaya karena waktu itu suasana tenang suara sirine atau gemuruh tak kedangeran. aku baru yakin saat hujan abu mulai turun tapi tidak terlalu lebat. Aku segera masuk kerumah dan memberitau kepada adik dan nenek tapi nenek udah tidak paham soalnya umurnya sudah hampir 1 abat. Terus aku ambil motor bawa keluar baru inget kalau ibu masih di mushola salat magrib aku Cuma menunggu sebentar ibu sudah pulang. Karena waktu itu suasana masih tenang semua warga juga tidak ada yang panik mungkin karena belum semuanya tau. Lega baru mau aku jemput ternyata ibu sudah samapi di depan rumah, ternyata ibu juga sudah tau kalau merapi sedang erupsi. Kami (aku dan  ibu) menyuruh nenek untuk keluar karena terlalu tua kami harus menggandengnya sampai keluar rumah. Kami agak kesulitan menaikan nenek ke motor. Nggak lama kemudian akhirnya paman (saudara) datang membawa mobil terus nenek masuk kedalam mobil bersama ibu. Aku dan adik naik motor. Abu vulkanik semakin lebat aku pun cepat bergegas, setelah melihat warga lain juga sudah keluar menuju barak pengungsian balai desa. Bnayak mobil tim SAR yang membantu evakuasi warga untuk sampai ke barak pengungsian. Semuanya tampak panik banyak kendaraan bermotor melaju kencang, untungnya sudah ada tim SAR yang sudah mempringatkan agar tidak panik dan berjalan pelan-pelan. Di perjalanan ke barak pengungsian aku banyak melihat kiri kanan jalan pepohonan yang hamper rubuh akibat dari hujan abu yang lebat. Hujan abu cukup lebat sampai-sampai aku tidak bisa melihat jalan dengan jelas karena kaca hlem yang kotor tertutup abu merapi. Perlahan tapi pasti akhirnya sampai juga di barak pengungsian, saat itu suasananya sangat kacau, banyak warga yang panik jalan macet di penuhi kendaraan bermotor. Tapi semua itu cepat teratasi karena banyak anggota dari kepolisian yang mengatur laju kendaraan. Aku segera memarkirkan motorku di tempat yang sekiranya kosong karena waktu itu banyak motor yang hanya di parkirkan di pinggir-pinggir jalan. Turun dari motor  bersama adik mencari tempat yang teduh karena hujan abu cukup lebat di sertai bau belerang yang sangat menyengat. Sedikit terbantu karena banyak relawan yang membagikan masker kepada kami dan warga yang lainnya.


  
Suasana di depan balai desa umbulharjo, 26 oktober 2010.

 Duduk sebentar sambil menenangkan diri. Setlah menenagkan diri sebentar, kami (aku dan adik) segera mencari ibu dan nenek karena terpisah waktu di perjalanan. Kami berjalan menuju kerumunan warga siapa tau ibu ada disitu, tapi ternyata tidak ada. Kami terus mencari dan akhirnya ketemu juga dengan ibu bersama tetangga dekat yang lainnya, sedikit lega bisa berkumpul bersama ibu. Tetapi nenek waktu itu tidak bersama ibu, kata ibu nenek masih di mobil bersama Pakde. Waktu itu mungkin sekitar jam 18.45 kami bisa berkunpul. istirahat sejenak di mobil sampai suasana terasa tenang. Tidak lama kemudian, terdengar suara ambulance menuju ke atas mungkin mau mengevakuasi warga kinahrejo desa paling atas di daerah kami. Selang sekitar 30 menit ambulance kembali turun ternyata di dalam ambulance ada warga yang tudak sempat melarikan diri sebagian tubuhnya melepuh. Aku semakin cemas “sebenarnya apa yang terjadi di atas?” pikirku. Ternyata tidak hanya satu ambulance, ada beberapa ambulance yang naik ke atas dan turun membawa warga lainnya yang terkena awan panas. Semakin menakutkan karena ada warga yang meninggal terkena awan panas merapi. Suasana mulai tenang waktu menunjukan sekitar pukul 22.13, warga yang lain juga sudah beristirahat di tempat pengungsian. Tapi banyak juga warga yang begadang diluar termasuk aku.


 
Suasana di depan bale desa pukul 22.13.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 01.15 kami selesai mengobrol dan dia masuk ke barak untuk beristirahat bersama keluarganya, dan aku masih diluar bersama warga yang lainnya. Aku hanya menunggu semoga pagi cepat datang. Lama-lama bosan juga menunggu aku menuju parkiran motor mau naik keatas melihat kondisi desaku waktu itu. Sedikit takut juga soalnya hanya sendirian mau ngajak teman tapi sudah pada tidur.  Tekatku sudah bulat mau naik keatas, di perjalanan ternyata juga ada tiga orang tiga motor yang mau naik ke atas aku ikut di belakang mereka. Waktu di perjalanan ada orang yang berjaga di jalan ternyata dati tim SAR kami tidak di perbolehkan naik ke atas, tetapi orang yang memakiai motor di depan sendiri juga anggota dari tim SAR kami di perbolehkan naik, mungkin aku juga dikra anggota, hehehe… Akhirnya bisa naik juga, semakin ke atas bau belerang semankin menyengat, abu juga nampak tebal menutupa jalan dan semua yang ada di sekitar lereng merapi. Sampai juga di desaku, ternyata tidak apa-apa sedikit lega rasanya. Aku pulang sebentar ke rumah untuk melihat kondisinya ternyata tidak apa-apa. Isirahat sebentar sambil mengisi perut yang lapar. Sesudah itu aku menuju pos ronda disana ternyata ada warga yang lainnay, watu itu mungkin ada sekitar 6 orang, aku bergabung bersama mereka, ngobrol-ngobrol menceritakan kejadian yang sudah terjadi. Mata terasa ngantuk tapi mau tidur tidak biasa, semua merasa was-was melihat kondisi gunung merapi. Detik demi detik terus berjalan waktu sudah menujukan pukul 05.00. kami melihat gungung merapi ternyata bekas alirnan awan panas menuju ke arah selatan. Aku merasa cemas “bagia mana kalu terjadi erupsi lagi mungkin rumahku juga bisa terkena aliran awan panas”.matahari sudah mulai sedikit nampak dari arah timur, kami bersiap untu menuju ke atas jagi ke desa kinah rejo, ternyata tim SAR juga mulai berdatangan. Mereka langsung menuju ke atas (desa kinahrejo), aku dan tenaku juga langsung menuju ke atas. Semakin ke atas saat memasuku desa ngrangkah aku melihat pepohonan sudah hangus terbakar. Aku hanya merasa percaya tidak percaya tapi semua itu memang kejadian nyata. Berjalan semakin ke atas ternyata kondisi semakin parah, pepohonan banyak yang tumban, rumah-rumah juga banyak yang rubuh akibat terjangan awan panas gunung merapi.



Kejadian awal erupsi merapi 2010 di desa kinahrejo


Tim SAR mulai menyisir rumah-rumah untuk mencari korban yang masih belum di temukan aku dan warga yang lainnya juga ikut membantu mencari. Di temukan mayat dengan luka bakar di seluruh tubuh aku takut melihatnya, tetapi korban tidak langsung di masukan ke kantunng mayat diberi tanda dulu di mana mayat itu di temukan agar bisa di ketahui identitasnya. Tidak lama kemudian aku turun bersama teman yang lainnya, saat sampai di bawah (jalan menuju desa kinahrejo) banyak orang-orang yang ingin naik keatas tapi tidak di perbolehkan oleh tim SAR demi keamanan bersama. Di tengah-tengah jalan di beri kayu penghalang agar tidak bisa naik, padahal waktu aku naik belum ada yang jaga di situ. Untungnya aku sudah naik duluan jadi bisa tau kondisi seputaran desa kinahrejo yang terkena dampak erupsi merapi 2010. Jalan pelan-pelan untuk pulang kerumah, sesampainya dirumah ternyata adik sudah ada dirumah bersama ibu bersih-bersih rumah, kerena waktu itu banyak abu yang masuk kerumah. Suasana waktu itupun juga sudah mulai tenang, banyak warga yang pulang kerumahnya untuk melihat kondisi sekitar ataupun beraktifias seperti biasa. Tetapi pada waktu sore semua warga kembali ke barak pengungsian umbulharjo. Karena takut kalau ada erupsi susulan.

Malam mulai tiba semua warga sudah ada di barak pengungsian, tapi ada juga yang belum karena masih mengurusi ternak mereka. Malam itu aku tidak bisa tidur karena ruangan penuh jadi aku di luar begadang bersama teman yang lainnya. Malam semakin berlalu pagipun tiba, Saat itu waktu menunjukan pukul 03.00 warga banyak yang sudah bangun dan pulang menuju ke rumah masing-masing. Karena kebanyakan warga pangukrejo bekerja sepagai peternak sapi perah. Jadi pagi hari sapi harus di perah untuk di ambil susunya dan lalau di bawa ke tempat penyetoran susu. Tapi sebaenarnya warga tidak boleh pulang dulu sebelum ada pemberitahuan untuk pulang. Tetapi warga tidak peduli karena mata pencaharian mereka hanyalah beternak sapi dan nekat pulang.

Matahari mulai kelihatan terang dan aku pulang bersama ayah, waktu itu adik sedang sekolah dan ibu menjaga nenek yang sudah tua di pengungsian. Aku pulang bersama ayah untuk membersihkan rumah karena banyak abu yang masuk kedalam rumah dan juga pasir yang menghambat saluran air di atap. Aku naik ke atap untuk membersihkan saluran air, karena kalau tidak di bersihkan sewaktu hujan air bisa masuk kedalam rumah. Sedikit demi sedikit aku bersihkan bersama ayah, dengan hati-hati melangkah di atas genteng. Sewaktu sedang sibuk membersihkan atap terdengan suara gemuruh tapi tidak terlalu keras, aku lihat ke utara ternyata gunung merapi mengeluarkan awan panas, lalu ayah mengingatkan agar tidak panik dan tetap tenang. Aku hanya melihat gunung merapi yang sedang mengeluarkan awan panas, awan panas mulai pudar dan aku melanjutkan membersihkan atap sampai slesai bersama ayah. Kami turun dan beristirahat karena capek membersihkan atap rumah. Waktu semakin sore dan suasana di desa juga semakin sepi karena warga banyak yang sudah turun ke barak pengungsian Umbulharjo.

Mlam mulai tiba, waktu itu tanggal 29-10-2010 warga kami sedang mengungsi di tempat penduduk sekitar balai desa, yang kebetulan ada aula yang kosong. Di tempat itu hanya ada warga Sidorejo asaja yaitu penduduk desaku, warga yang lain seperti Kinahrejo, Pangukrejo dan desa lainnya berada di balaidesa umbulharjo. Malam itu menunjukan pukul 23 lewat, banyak warga yang masih belum tidur begadang di depan pintu gerbang sambil bercanda. Malam mulai lewat pagi pun datang saat itu pukul 01.16 aku masuk kedalam berkumpul bersama ibu dan adik yang trnyata masih belum tidur, aku duduk dan ngobrol-ngobrol bareng. Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang cukup keras sampai-sampai bangunan yang kami tempati terasa bergetar, jujur waktu itu aku merasa cemas dan panik pikiran sudah bingung yang d pikirkan hanya lari. Tapi aku tak mungkin meninggalkan ibu dan adik apalagi ada nenek yang sudah lanjut usia. Warga banyak yang terbangun dan melihat kondisi sekitar, sejenak suasana muliai tenang karena tidak terjadi apa-apa, dan tiba-tiba listrik padam membuat suasana menjadi kacau di tambah suara hujan yang ternyata itu hujan pasir. Warga kocar-kacir pergi tanpa arah dan tujuan yang pasti. Aku di ajak teman untuk segera pergi ke tempat yang aman, tapi aku tak mungkin bisa pergi sendiri tanpa ibu, adik dan, nenek . Pak RW pun datang menyuruh kami untu tidak panik dan tetap tenang, kata Pak RW dia mw cari mobil buat mengangkut warga yang belum bisa pergi, Pak Rwpun pergi. Tak kurang dari 10 menit suasana mulai sepi Tim SAR, tentara, dan juga polisi sudah pergi semua, mungkin tidak tau kalau masih ada warga yang belum pergi. Saat itu masih ada sekitar 13 warga yang masih ada di barak pengungsian dan kebanyakan adalah orang tua, kami tetap tenang dan menunggu mobil datang. Lama kami menunggu aku keluar dan melihat keadaan sekitar dan ternyata semua orang sudah pergi tak ada siapa-siapa. Saat aku amati lagi ternyata masih ada mobil dan juga masih ada orangnya mereka adalah crew wartawan lokal. Aku soroti mereka memakai penerangan hp, dan mereka tau kalau masih ada orang yang belum pergi, dan mereka datang dengan mobil. Salah satu dari mereka bertanya “apa masih ada orang di dalam?” aku jawab “ masih ada yang di dalam”. Lalu aku masuk ke dalam dan memberi tau warga untuk keluar dan masuk kedalam mobil. Ibu juga masuk mobil bersama nenek, sedangkan aku naik motor bersama adik. Mobilpun berjalan dan aku mengikuti dari belakang. Saat itu hujan abu sangat lebat dan kebetulan aku tidak memakai helem, aku hanya berjalan pelan karena sangat sulit untuk mengendarai motor denagn mata terbuka. Mobilpun semakin jauh, di pinggir jalan aku lihat banyak pohon yang merunduk hampir roboh, mungkin karena terlalu banyak abu yang turun. Saat di pertigaan aku lihat mobil yang membawa ibu, nenek dan, warga yang lainnya, aku ikuti dari belakang. Saat aku pandangi lebih jelas ternyata salah mobil, mobil yang membawa ibu, nenek dan warga yang lainnya. Aku bingung harus kemana, aku hanya jalan terus menjauh dari merapi. Saat di pertigaan  seperti ada yang memanggil namaku, ternyata itu temanku dan aku ikut berteduh bersama tmen dan warga yang lain di depan toko, kami saling bertukar informasi tentang situasi keadaan sekitar. Setelah beberapa jam berteduh kami 1 rombongan ingin menuju ke lapangan Klidon, yang menurut informasi semua warga berkumpul disana. Kami berjalan ke selatan belum sampai tempat tujuan kami beristirahat di depan toko sambil berteduh, saat kami sedang duduk ternyata ada penduduk sekitar yang baik hati menyuruh kami untuk masuk kedalam untuk beristirahat adik masuk kedalam bersama warga lain dan aku diluar saja bersama teman, aku duduk di teras depan  sambil memejamkan mata, aku buka mata tidak terasa ternyata matahari sudah nampak dari timur saat itu waktu menunjukan pukul 05 lewat, semua wargapun juga sudah bangun. Aku segera cuci muka, dan pamit untuk kembali ke barak pengungsian Umbulharjo. Sesampainya di pengungsian suasana masih sepi hanya ada beberapa orang yang sudah berada di sana. Aku melihat kondisi sekitar yang sudah tertutup abu dari awan panas merapi. Saat itu aku mencari ibu dan nenek yang terpisah saat di jalan, aku lihat-lihat ternyata tidak ada tapi ada yang mengabarkan bahwa mereka sudah ada di lapangan klidon. Akupun sudah mulai tenang karena ibu dan nenek sudah berada di tempat yang aman. Siang mulai tiba, aku ingin melihat kondisi di rumah waktu itu. Bersama teman kami berdua pulang untuk melihat kondisi di desa dan rumah. Saat sampai di desa aku hanya melihat debu dimana-mana yang cukup tebal. Aku pulang dan masuk kedalam rumah untuk melihat-lihat keadaannya. Semua tanaman di belakang rumah banyak yang merunduk tertutup abu vulkanik dari merapi. Dan semua masih berlanjut.

Merapi bukan tontonan Bantu hijaukan kami

0 Comments »
Di maguoharjo aku mash bertahan bersama keluargaku. Tapi nenek sekarang sudah tidak ada lagi kerena sudah meninggal beberapa minggu yang lalu aku sungguh merasa kehilangan tapi sudahlah yang berlalu biarlah berlalu hadapi masa depa yang lebih baik. Sekarang di pengungsian maguoharjo sudah semakin sepai karena sebagia pengungsi sudah di perbolehkan pulang. Tapi sebagian warga yang tidak punya tempat tinggal seperti aku masih tetap bertahan di pengungsian maguoharjo. Saat ini yang aku ketahui hanya tinggal beberapa desa diantaranya desaku sidorejo, ngerangkah, jambu, kepuh harjo dan masih beberapa desa lagi. Saat ini aku selalu sbuk pulang ke rumah yang sudah rusak, di sana aku mulai membangun rumah bersama ibuku dan adiku dari sisa bangunan yang masih bisa di gunakan. Kebanyakan bangunan di desaku sudah hangus terbakar ada juga yang sudah rubuh akibat dari awan panas gunung merapi. Di desaku masih mending di banding desa pangukrejo sampai kinahrejo yang sudah rata semua dan hanya tinggal pondasi saja. Di desaku air bersih sangat sulit di dapatkan karena saluran air terputus terkena material awan panas mrapai tapi untungnya ada bantuan sukarela dari PMI yang mengasih penampunagn air di desaku jadi air bersih masih bisa di dapatkan untuk keperluan seperlunya. Setiap hari di desaku sangat ramai oleh pengunjung yang ingin melihat keadaan di daerahkami yang sudah rusak bantuanpun mulai berdatangn dari sukarela yang membantu kami. Aku sangat berterimakasih atas semuanya yang telah di berikan kepadakami sedikitpun itu sangat bermanfaat bagi kami. Saat hujan mulai turun kami tidak bisa bertebuh hanya menggunakan jashujan untuk melindungi diri. Karena bangunan masih dalam perbaikan dan belum layak untuk di huni kembali. Butuh beberapa tahun untuk membangun desa kami kembali seperti dulu lagi. Kemungkinan dusun paling atas di bawah garis merah adalah Pangukrejo. Dan desaku juga termasuk pedukuhan Pangukrejo. Tumbuhan di daerah kami tinggal sudah gungul tidak ada pepohonan yang tumbuh kecuali rerumputan dan bambu yang masih bisa tumbuh. Semuanya sudah habis akibat awan panas dari gunung merapi. kami hanya bisa berharap semuanya bisa hijau kembali seperti dulu kala dengan penanaman penghijauan kembali.

Gemuruh di malam itu

0 Comments »

Waktu itu aku sedang mengungsi di balai dasa umbulhajo cangkringan dan sedang berkumpul, saat itu aku dan warga satu desa mengungsi di rumah warga sekitar balai desa. Pas waktu itu semuanya tenang karena sebagian pengungsi sudah tidur. Waktu itu aku sedang asik dengerin musik bersama temen-temen di luar ruangan Sambil mengamati keadaan sekitar. Aku masuk kedalam duduk sambil dengerin musik. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang cukup keras semuanyapun terdiam sesaat. Ada yang bilang kalau suara itu suara gunung merapi. Otomatis semuanya menjadi panik dan membangunkan  pengungsi yang masih tertidur karena waktu itu menunjukan pukul 01:32 jadi pengungsi masih tertidur lelap. Aku berjalan melihat keluar dan melihat banyak warga yang panik. Aku balik masuk kedalam dan mencoba untuk tenang, waktu itu ibu dan adiku sudah terbangun tadi nenek masih tertidur karena nenek sudah tidak tau apa-apa. Pak RW datang dan memberi tau untuk tetap tenang tapi sebagian pengungsi panik dan membuat semuanya menjadi panik. Semuanya bergegas keluar mencari tempat yang dianggap aman. Tapi aku tetap di dalam ruangan bersama ibu adik dan warga lainya. Kebanyakan yang didalam adalah lansia. Aku mulai kawatir saat semuanya sudah keluar, waktu itu yang didalam ruangan hanya ada 13 orang. Aku berjalan melihat keluar sudah sepi, pengungsian yang di balaidesa juga sudah sepi, aku balik kedalam dan memberi tau kalau di luar sudah tidak ada orang, kami hanya bisa terdiam sesaat untuk berdo’a. Saat itu bau belerang sudah mulai tercium dan abu mulai turun saat itu dalam kedaan gerimis jadi abu campur air menjadi huja lumpur. Aku berjalan keluar mencoba untuk mencari bantuan, saat aku di pinggir jalan aku melihat mobi lalu aku soroti senter karena waktu itu listrik padam jadi gelap banget. saat aku soroti lampu senter ada orang yang merespon disamping mobil. Mobil itu pun berjalan menghampiriku ternyata itu mobil kru wartawan yang sedang meliput, salah satu kru keluar dan bertanya “apa masih ada orang didalam?”...  “iya masih ada beberapa orang” jawabku. Lalu aku berjalan masuk dan menyuruh semua pengungsi yang tersisa untuk keluar. Semuanyapun keluar dan masuk mobil, dan sebagian naik motor termasuk aku dan adiku. Nenek dan ibuku ikut bersama mobil itu yang hanya muat beberapa orang saja. Aku mulai menyalakan motorku dan berjalan mencari tempat yang di anggap aman. Di perjalanan aku hanya melihat abu dimana-mana, pandanganku kabur karena helem yang aku gunakan tertutup lumpur ditambah listrik yang sedang padam membuat padanganku semakin tidak jelas. Saat aku sadar aku ternyata mengikuti mobil yang salah bukan mobil yang membawa sebagian pengungsi tadi. Aku hanya berjalan terus mencari tempat aman. Saat sampai di pakem ada orang yang memanggilku, saat aku amati ternyata temanku yang sedang berteduh di depan toko bersama sebagian pengungsi lainnya. Aku pun bergabung bersama temanku dan sebagian pengungsi lainnya. Saat di pakem tepatnya di pertigaan pokoh aku berteduh. Listrik disitu tidak padam jadi terlihat terang. Satu jam lebih aku berteduh disitu bersama pengungsi lainnya dan ingin pindah ke lapangan kelidon. Di perjalanan kami di hentikan orang kalau dilihat dari seragamnya kayaknya seperti tim SAR kamipun berhenti dan memarkikan motor di tempat yang teduh, lalu kami di bagikan masker untuk jaga-jaga. Sampai pagi hari tiba aku hanya duduk di depan toko, karena saat itu semuanya berhenti di depan toko. Sampai matahari terlihat kami mulai menyalakan motor dan balik ke balai desa tidak jadi kelapangan. Aku melihat semuanya tertutup abu,  sesampainya di balai desa ternyata sudah ada pengungsi lain yang sampai duluan. Tapi disitu masih sepi hanya sebagian yang ada di balaidesa umbulharjo. Kami hanya duduk-duduk dan melihat keadaan sekitar yang sudah tertutup abu. Beberapa menit kemudian tim SAR dan anggota lainnya mulai datang. Waktu itu menunjukan pukul 05:12 jadi masih sepi. Saat mulai ramai aku dan temen satu desa naik keatas menuju desa kami. Desa kami hanya tertutup abu untungnya tidak apa-apa. Aku hanya melihat-lihat keadaan sekitar lalu kembali ke pengungsian. Di pengungsian ternyata ibu belum juga kelihatan, ternyata ibu berada di pengungsian wukirsari cangkringan bersama nenek dan pengungsai lainya. Aku lega ibu dan nenek tidak apa-apa. Ibu dan nenekpun di antar ke balai desa bersama pengungsi lainnya. Dan aku bisa bertemu ibuku lagi. Dan semuanya pun masih berlanjut.

kejadian 26 oktober 2010

0 Comments »

Awal pertama waktu mengungsi, sungguh aku tak percaya. Waktu itu kalo gak salah pukul 18:15 tnaggal 26 oktober 2010. Aku sedang asik nonton tv di rumah bersama adik. Waktu itu ibuk sedang pergi ke mushola brsama ibu-ibu lainya, nggak tau kenapa tiba-tiba ada tmen datang trus ngasih tau lok di suruh turun ke balaidesa umbulharjo katanya gunung merapi sedang erupsi dan awan sudah sampai ke desa kinahrejo padahal sidorejo tempat aku tinggal nggak trlalu jauh dari desa kinahrejo jaraknya sekitar 1km.

Wakti itu aku sungguh tidak percaya, karena dari rumah nggak kedengeran suara gemuruh atau apapun suwara sirine juga nggak kedengeran dari dalam rumahku. Aku terus keluar dan aku melihat banyak waega sekitar yang sudah turun menuju balai desa umbulharjo. Aku tetep ngrasa nggak percaya dan aku berpikiran mungkin nggak apa-apa Cuma letusan kecil. Aku masih diluar rumah melihat warga yang terus berbondong-bondong turun ke balai desa.

Aku merasa cemas saat hujan abu mulai turun, aku baru percaya kalau awan panas sudah sampai desa kinahrejo. Aku mulai berjalan cepat masuk kedalam rumah dan menyuruh adik-adik untuk mengemasi barngnya. Aku juga mulai bergegas mengemasi barngku. Aku mulai kawatir saat ibuku belum juga pulang dari mushola. Aku mulai nyalain motor mau menjemput ibuku, ternyata ibu udah sampai jalan deket rumah terus aku mulai ngasih tau ibu tentng kejadian itu. Dan ibu juga cepat bergegas masuk rumah dan mulai mengemasi barangnya. Aku sampai lupa kalau nenek masih ada di kamar. “Aduh gimananih”.. aku mulai mengajak nenek keluar tapi mau bagaimana, nenek kalau suruh naik motor udah nggak berani lagi kaerna umur nenek sudah satu abat lebih. Kami bingung mau bagai mana, untungnya mobil evakuasi lewat depan rumah, jadi ibu dan nenek bisa ikut mobil tersebut. “Cepat-cepat”.. aku mencoba untuk tenang jangan terlalu panik. Karena di desa sudah sepi semua warga sudah turun ke barak pengungsin. Waktu pukul 18:30 Aku mulai nyalain motor mengikuti di belakang mobil evakuasi.

Hujan abu semakin deras, Aku semakin kawatir karena di sertai bau beleranng yang menyengat. Aku berpikiran pasti semua ini Cuma mimpi. Di jalan aku hanya helihat abu disana-sini menutupi jalanan. Saat hampir sampai balai desa jalanan macet, karena banyak mobil dan motor yang berhenti memenuhi jalanan. Suasana saat itu sungguh menakutkan semuanya hanya merasa panik dan gelisah. Tim SAR mulai menenangkan semua orang agar jangan panik. Aku mulai memarkirkan motorku dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujan abu sangat deras di sertai bau belerang yang sangat menyengat.

Aku hanya bisa diam melihat semuanya, semuanya hanya seperti mimpi buruk. Kapan semua ini akan berakhir? Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Seselang beberapa menit ada tim SAR yang membagikan masker. Akupun bergegas meinnta masker unbtuk aku dan adiku. Aku yakin semuanya akan baik karena semuanya sudah ada yang ngatur. Saat semuanya mulai tenang aku mulai mencari ibuku di sekitar kerumunan masyarakat. Tapi perasaan ini nggak bisa tenang karena ada kabar bahwa sudah ada korban di daerah kinahrejo. Terdengar suara ambulan yang melaju cepat dan berhenti di depan balai desa aku sempat melihat korban di dalam mobil. Ternyata sungguh mengerikan semuanya hangus. Saat itulah aku merasa takut banget ternyata salahsatu temanku sudah tidk ada lagi dan tetangga dekat, dan dikbarkan lagi juru kunci gunung merapi juga di temukan dalam keadaan sujut sudah meninggal. Aku terus merasa cemas sambil mencari anggota keluargaku dan saudara-saudara terdekat.

Akhirnya aku bisa menemukan ibuku dan nenek, aku merasa sedikit tenang bisa berkumpul kembali. Dan juga bisa berkumpul bersama warga satu kampung. Didalam tenda darurat semuanya berkumpul dan ber istirahat. Namun malam itu aku tak bisa tidur begadang sampai pukul 03:30. Pada waktu itu matahari samasekali belum nampak aku mencoba nekat melihat ke desaku. Sesampainya di desa aku melihat banyak pepohonan yang tumbang di sekitar pinggir jalan. Ternyata di gargu ronda ada beberapa orang pemuda di desaku yang juga begadang menjaga desa dari orang-orang yanng tidak bertanggung jawab.

Aku ikut bergabung ke gardu ronda ada sekitar 6 orang di dalam. Sampai fajar menyingsing aku masih begadang. Dan pagi itu sekitar pukul 05:16 tim sar mulai naik melihat keadaan di atas. Aku dan kawan-kawan pemuda menunggu sampai matahari terlihat terang. Sekitar pukul 05:30 kami mulai naik ke desa kinahrejo. Di perjalanan aku melihat pepohonan yang tumbang di jalan tapi sudah di singkirkan oleh tim sar. Jadi kami tinggal mengikuti saja sampai ke atas. Saat sampai di desa ngkrangkah ke utara sudah terlihat pepohonan yang tetrbakar. “Bagai mana jadinya desa kinahrejo? kalau di sini sudah kebakaran”.. tanyaku dalam hati..

 Sesampainya di kinahrejo aku tak percaya melihat semua ini. Rumah-rumah sudah pada hancur pepohonan sudah terbakar semua. Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan di desa itu. Tapi saat di cermati ternyata masih ada suara sapa yang masih hidup tapi susah untuk di jangkau karena terhalang rumah-rumah yang roboh. Aku melihat semuanya sudah seperti gurun semuanya sudah rata. Aku hanya bisa memandang semua ini hanya seperti mimpi burukku, kalau memeng mimpi aku ingin segera bangun. Tapi semuanya nyata.

Aku berjalan melihat rumah-rumah yang hancur berjalan berlahan melihat kondisi sekitar desa kinahrejo. Aku tak sanggup melihat saat tim sar menemukan jenasah saudara kita yang sudah dalam keadaan hangus. “Mengapa semuanya ini ter jadi?” mungkin ini sudah kehendak yang Maha Kuasa, ya sudahlah. Semuanya orang waspada karena puncak gunung merapi sudah sangat terlihat jelas tanpa terhalang pepohonan. Setelah beberapa jam di atas aku dan kawan-kawan turun dan melihat keadaan di desa kami yang sudah tertutup abu dari gunung merapi. Dan semuanya masih berlanjut...

Bangkitlah saudaraku

1 Comments »
Skarang semuanya telah sama. hidup di lereng merapi membuat semuanya sama, miskin kaya semuanya sama, kapan semuanya akan brakhir gunung merapi akan kembali normal seperti dahulu, yang indah dan elok.Tapi semuanya telah trjadi dan waktu tidak bisa balik berputar. Kita hanya manusia biasa taka ada yang sempurna. Yang terjadi biarlah terjadi, semuanya hanya tinggal masalalu yang hanya bisa kita kanang. Desaku yang indah kini telah luluh lanta akibat kedasyatan gunung merapi.


semuanya akan baik-baik saja jangan pasrah pada keadaan. Hapus air mata kepedihan. Mari bangkit menuju hari esok yang lebih baik karena perjalanan masih panjang tuk kita melangkah. Kita bangun kembali semua dari awal, gotongroyong untuk membangun desa kita kembali, karena semuanya akan baik-baik saja kuharap ini adalah erupsi yang terakhir kalinya. Jadi kita tidak perlu takut lagi untuk membangun kembali desa kita kembali.


Rasa takut akan merapi jangan sampai mematahkan semanga kita. Bangkitlah buang rasatakut jauh-jauh untuk kita melangkah ke masa depan. Jangan hanya duduk terdiam tanpa semangat. Ya ALLAH mungkin ini adalah cobaan darimMU, bangkitkanlah semangat saudara-saudaraku yang telah tertimpa musibam. Dan semoga semuaini tidak akan terulang kembali untuk selamanya. amint.

Hidup di Maguwoharjo

0 Comments »
Namaku Burhan. Rumahku di Pangukrejo, Cangkringan Sleman. Usai Merapi meletus hebat 5 Nopember lalu, kondisi rumah sudah luluh lantak penuh material vulkanik. Kini aku mengungsi jauh dari rumah yang sudah 19 tahun lalu aku dilahirkan di sana.


Kini saya berpindah ke rumah besar yang aku tempati sekarang adalah Stadion Maguwoharjo. Lokasinya berada sekitar puluhan kilometer dari kampung saya di lereng Merapi. Entah sampai kapan, aku menghuni rumah besar ini, karena Merapi masih saja dalam status Awas. Artinya, saya tak mungkin segera pulang ke kampung. Bahya masih mengancam.